Apa Definisi Safety?Kata “SAFETY” merupakan istilah yang sudah tidak asing bagi kita. Hampir setiap orang sudah pernah mendengar kata “SAFETY” tersebut.

Namun ada hal satu hal yang menarik bagi saya ketika membaca suatu artikel yang berbicara tentang “SAFETY” itu sendiri. Artikel tersebut mengajak saya untuk merenungkan ketika seseorang menyebut kata “SAFETY” maka kira-kira apakah yang terbersit dalam pikiran orang lain yang mendengarnya, kemudian saya diajak untuk menata ulang kembali definisi “SAFETY” melalui beberapa argumen yang disampaikan dalam artikel tersebut untuk kemudian berujung pada suatu kesimpulan sebagai definisi ulang dari istilah “KONDISI YANG SAFE” yang selama ini mungkin disalah artikan oleh sebagian besar orang.

Melalui artikel ini saya akan coba untuk menuliskan pemahaman saya atas hal tersebut. Dimulai dari sebuah pertanyaan, Jika mendengar sebuah kata “SAFETY” kira-kira apa yang muncul dalam benak kita. Umumnya jika mendengar kata safety orang akan memberikan respon sebagai berikut:

  • Keselamatan kerja
  • Safety top priority
  • Bebas kecelakaan kerja
  • No tolerance
  • No harm
  • Dan lain-lain

Menjadi menarik jika kita telaah lebih jauh mengenai definisi atau ungkapan-ungkapan dalam “SAFETY” sebagai berikut: zero incident, zero injury, zero harm dan ungkapan-ungkapan lainnya yang sejenis dan apakah mungkin hal-hal tersebut untuk dapat diwujudkan dalam dunia kerja? Jadi bagaimana sebenarnya suatu kondisi yang bisa dikatakan “SAFE” itu?

Untuk membahas tentang hal ini kita akan memulainya dengan sebuah contoh. Misalkan kita berada di pinggir jalan raya dimana arus lalu lintas pada saat itu padat dan berasal dari dua arah, kecepatan kendaraan yang lewat cukup tinggi dan tidak ada tempat khusus penyeberangan ataupun lampu lalu lintas. Pada saat itu kita bermaksud untuk meyeberang ke sisi jalan yang lain. Kira-kira apakah hal tersebut safe atau tidak?. Hampir semua orang diperkirakan akan menjawab bahwa hal tersebut tidaklah safe. Bahkan apabila anda tetap nekad untuk menyeberangi jalan tersebut dan selamat sampai di sisi jalan yang lain, diperkirakan banyak orang yang akan mengatakan bahwa anda beruntung. Artinya meskipun anda selamat menyeberangi jalan yang ramai tersebut maka sebagian besar orang tidak berkesimpulan bahwa Anda telah melakukan cara/tindakan yang selamat sehingga bisa menyeberangi jalan tersebut tanpa cidera. Bahkan sebagian orang akan mengatakan bahwa pada saat itu Anda beruntung saja, mungkin di lain waktu nasibnya akan berbeda.

Mari kita renungkan kembali. Faktanya adalah anda berhasil menyeberangi jalan tersebut dengan selamat, tanpa kecelakaan (zero incident), tanpa terluka (zero injury). Namun apakah kita bisa menyepakati bahwa apa yang terjadi sudah mencerminkan suatu proses yang “SAFETY”? Apakah tujuan dari “SAFETY” sudah tercapai? Secara pribadi saya menilai bahwa banyak orang yang akan menolak untuk menyatakan bahwa kondisi tersebut adalah “SAFE” meskipun fakta/hasil akhirnya adalah tidak Ada yang cidera atau tidak terjadi kecelakaan lalu lintas.

Nah, karenanya definisi “KONDISI SAFE” seperti yang sudah disampaikan di atas menjadi kurang tepat dan perlu untuk dilakukan pendefinisian ulang. Safety sangat erat kaitannya dengan hazards/bahaya. Istilah risk assessment sudah dikenal luas di kalangan praktisi safety. Konsepnya adalah dalam setiap aktifitas kerja yang dilakukan akan menghasilkan bahaya/hazards yang bersumber dari orang yang melakukan pekerjaan, alat kerja, material yang digunakan untuk bekerja dan lingkungan sekitar area kerja. Kombinasi dari semuanya akan berpotensi untuk menciptakan yang namanya resiko kerja (risk). Tujuan dari melakukan risk assessment adalah untuk memastikan bahwa pekerjaan yang akan dilakukan tidak berpotensi untuk menimbulkan resiko yang tidak dapat diterima (un acceptable risk). Bagaimana caranya? Dengan melakukan kontrol (hierarcy of control) sehingga resiko nya bisa diturunkan menjadi resiko yang dapat diterima (acceptable risk). Kembali kepada contoh di atas, mengapa saya berpendapat bahwa kondisi yang sudah disampaikan pada contoh di atas adalah contoh kondisi yang tidak “SAFE”, hal ini dikarenakan saya menilai bahwa kondisi tersebut menanggung resiko yang tidak dapat diterima, meskipun faktanya kemudian orang tersebut berhasil menyeberang dengan selamat dan saya akan mengatakan bahwa orang tersebut beruntung. Jika jalan tersebut dilengkapi dengan lampu lalu lintas, rambu-rambu kecepatan dan jembatan khusus pejalan kaki menyeberang maka kemudian saya akan menilai bahwa kondisi tersebut sebagai “KONDISI SAFE” bagi seseorang untuk menyeberang jalan.

Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam aktifitas di dunia kerja, adalah tidak mungkin untuk menciptakan suatu keadaan yang bebas dari hazard ataupun bebas risk. Kapanpun dan dimanapun hazard dan risk akan selalu ada. Peran “SAFETY” adalah untuk memastikan bahwa hazard yang ada tidak berpotensi menimbulkan resiko yang tidak dapat diterima (unacceptable risk). Sehingga mungkin dapat didefinisikan ulang bahwa suatu keadaan/kondisi yang safe adalah “suatu keadaan yang terbebas dari resiko yang tidak dapat diterima”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Tag Cloud