Sudah umum dan dianggap normal bagi kebanyakan orang bahwa Tuhan diidentikkan dengan cahaya. Tuhan, Dewa dipahami sebagai cahaya, sinar. Di sisi lain kegelapan biasanya diasosiasikan dengan Iblis, Setan, Bhuta atau apapun itu yang dianggap memiliki kekuatan negatif.

Tapi bagi orang Bali, bagi leluhur orang Bali tidak demikian. Bagi mereka gelap sama pentingnya dengan terang/cahaya/sinar. Dua hal ini, Gelap dan Terang saling melengkapi satu sama lain.

Cahaya/Sinar dikenal karena adanya gelap. Tanpa adanya kegelapan, kita tidak dapat memahami bagaimana cahaya itu. Kegelapan atau gelap itu sendiri merupakan ruang atau tempat di mana cahaya mewujud, tampak, terlihat. Gelap ibarat kanvas untuk melukiskan cahaya. Tanpa ruang gelap, tanpa kanvas tidak memungkinkan untuk melukiskan cahaya. Dalam suatu ruang yang benar-benar gelap maka nyalakanlah korek api, maka cahaya akan tampak sangat jelas. Tanpa kegelapan cahaya tidak akan pernah eksis.

Masyarakat Bali telah sekian lama merayakan kegelapan seperti ini. Kegelapan untuk masyarakat Bali bukanlah suatu hal yang perlu untuk ditakuti. Justru malah dirayakan. Karena kegelapan dan cahaya saling mendukung satu sama lain.

Perayaan Ciwaratri, malam Ciwa, dirayakan setiap bulan Januari. Mungkin masih banyak yang menganggap bahwa Ciwa merupakan sosok penghancur. Sesungguhnya Dewa Ciwa merupakan pelebur. Penghancur tidak sama dengan pelebur. Pelebur adalah Recycle, pendaur ulang. Sesuatu yang tidak baik diterima dan dilebur menjadi baik. Ciwa disimbolkan/dilambangkan dalam bentuk Lingga yang keluar dari dalam Yoni. Ini merupakan simbol penciptaan, kreatifitas, terbitnya cahaya.

Jika mengikuti kalender Lunar/Bulan, Ciwaratri jatuh pada malam tergelap di bulan Januari dan Juga merupakan malam yang tergelap sepanjang tahun. Yang menarik adalah pada malam itu dimana istilahnya tidak ada bulan sesungguhnya juga merupakan awal dari pembentukan Bulan. Pada malam ini terjadi akhir dari siklus bulan pada bulan sebelumnya dan awal dari siklus bulan pada bulan selanjutnya. Pada malam ini, yang lama dan yang baru bertemu. Malam ini mengingatkan pada kita tentang keberlanjutan/kontinuitas melalui peleburan yang lama dan yang baru. Sesuatu yang kurang baik entah itu kegagalan, kesalahan, dll harus kita terima dengan lapang dada untuk kemudian dilebur, diperbaiki. Input yang negatif mampu kita lebur menjadi output yang positif. Jadilah seperti Ciwa, milikilah kemampuan seperti Dewa Ciwa. Maksud saya terapkanlah karakter Ciwa ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Inilah salah satu alasan mengapa pada malam Ciwaratri biasanya dilakukan Japa dengan menyebut nama NYA. Hal ini agar karakter tersebut bisa kita sadari dan meresapi di dalam diri kita. Namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan Japa pada malam-malah atau hari-hari lainnya. Kita dapat melakukan Japa kapanpun, Siang ataupun Malam. Tidak ada batasan atau larangan.

Namun jika kita melakukannya pada malam Ciwa, ada keuntungan tersendiri disebabkan malam itu adalah malam tergelap di bulan itu. Demikian juga dengan tradisi kita untuk melakukan persembahyangan bersama pada setiap malam purnama dan tilem.

Saya yakin bahwa leluhur kita di Nusantara ini memahami koneksi/kaitan/hubungan antara Bulan dan Mind manusia (baca: kita). Jika saya kutip dari Tri Hita Karana, maka koneksi ini adalah satu contoh hubungan yang terintegrasi antara Tuhan, Manusia dan Lingkungan/Alam. Bagaimana kejadian di alam saling pengaruh mempengaruhi mind manusia dan pada akhirnya mempengaruhi kesadaran spiritual dari manusia itu.

Air/cairan di permukaan bumi ini dikendalikan oleh bulan. Bulan penuh/purnama akan meningkatkan level permukaan air laut karena bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi sehingga gravitasi bulan akan mempengaruhi level permukaan air laut. Kemudian pada saat bulan mati/tilem level permukaan air laut akan turun. Inilah yang terjadi di Buana Agung, lalu bagaimana yang terjadi dengan cairan di dalam buana alit, di dalam tubuh kita. Mungkin kita semua sudah mengetahui bahwa darah merupakan cairan terbesar dan mengalir di dalam tubuh ini. Hampir 70% dari tubuh ini adalah cairan. Otak manusia 90% nya adalah cairan. Apakah cairan di tubuh ini juga terpengaruh oleh bulan?? Jawabannya ‘YA’. Apa yang terjadi di sungai dan laut (Buana Agung) juga terjadi di bagian tubuh & organ internal kita (Buana Alit).

Jadi ketika bulan penuh/purnama, karena gravitasi bulan maka level cairan di dalam tubuh akan meningkat. Jika tidak dikendalikan maka akan timbul dampak seperti emosional meningkat, meledak-ledak. Untuk mengatasi ini sangat dianjurkan untuk melakukan meditasi. Dengan bermeditasi maka akan membantu menstabilkan level cairan di dalam tubuh. Kurangi aktifitas-aktifitas dan hal-hal yang pada akhirnya dapat memicu emosional kita. Pada saat ini mind akan sangat bergejolak. Lakukan meditasi untuk mengendalikan pikiran-pikiran. Demikianlah maka untuk tujuan tersebut dilakukan persembahyangan bersama pada fase bulan Purnama.

Sekedar cerita pada masa kanak-kanak, namun saya rasa masih nyambung dengan tema tulisan ini. Pada saat saya kecil pernah melihat acara TV yang bercerita tentang manusia serigala, dimana pada bulan Purnama akan berubah menjadi seekor serigala. Kaitannya dengan kisah manusia serigala tadi, maka manusia akan cenderung bergejolak mind NYA sehingga berpotensi untuk tidak sadar dan memicu munculnya naluri-naluri hewani dalam dirinya (Animal Instinct).

Ketika fase bulan mati/tilem, level cairan di tubuh cenderung lebih stabil. Pada malam ini ‘MIND’ manusia akan lebih receptive/lebih mudah menerima sesuatu dan akan disimpan dalam waktu yang cukup lama. Manfaatnya akan dirasakan untuk jangka waktu yang cukup lama. Melakukan Japa ataupun persembahyangan bersama pada malam ini sangat diperlukan.

(Bersumber dari Buku The Wisdom Of Bali, Anand Krishna)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Tag Cloud