Hari Raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Kliwon Wuku Sinta, kata Pagerwesi dapat diartikan “Pagar dari Besi”. Hal ini melambangkan suatu perlindungan yang kuat, dimana segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi dan agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Makna dari perayaan Pagerwesi adalah untuk mengingatkan kepada kita agar mampu untuk memagari jiwa dalam rangka penyucian diri. Jika jiwa/atman diibaratkan sebagai sang mentari yang bersinar memancarkan cahayanya dan awan gelap sebagai gangguan yang dapat menimbulkan kegelapan di dunia seolah mentari tidak bersinar lagi. Sesungguhnya sang mentari tidak pernah berhenti bersinar, adalah awidya/awan kegelapan yang menutup sinar mentari. Setelah awan gelap itu pergi maka semuanya akan terang kembali. Itulah mengapa jiwa perlu dipagari agar jangan mendapat gangguan.

Lalu bagaimanakah caranya untuk dapat memagari jiwa ??? Salah satunya adalah dengan mengendalikan indria-indria kita. Analogi tentang pengendalian indria dapat dipahami melalui gambaran kereta kuda dan saisnya. Indria-indria diumpamakan sebagai 10 ekor kuda dan saisnya adalah diri kita (sang jiwa). 10 ekor kuda ini mewakili dasendria yang perlu untuk dikendalikan. Dasendria dibagi menjadi Panca Budhindria dan Panca Karmendria. Panca Budhindria terdiri dari indria pendengaran, indria perasa, indria penglihatan, indria pengecap, indria penciuman. Sedangkan Panca Karmendria terdiri dari rangsang penggerak perut, rangsang penggerak tangan, rangsang penggerak kaki, rangsang penggerak pelepasan, dan rangsang penggerak kelamin.

Kembali kepada analogi kereta kuda tadi, maka sewajarnya adalah sais keretalah yang mengendalikan kuda-kuda tersebut untuk dapat sampai dengan selamat di tujuan. Tapi coba kita bayangkan apabila sais tak dapat mengendalikan kuda-kudanya, maka kereta akan terbawa ke sana kemari tak menentu arah dan tujuannya, bahkan mungkin dapat tersesat.

Manusia menjadi tidak sempurna akibat dibelenggu oleh keinginan indria yang liar tiada terkendali. Jika indria ini dibiarkan liar maka manusia akan tersesat di dalam hidupnya.

Dari indria-indria inilah timbul berbagai keinginan manusia, dan melalui indria pula manusia memperoleh kepuasan, kesenangan, kesusahan. Baik buruknya kehidupan manusia tergantung pada usahanya mengendalikan indria . Seperti yang dapat saya kutipkan dari Sarasamucaya sbb:

“Sesungguhnya indria itu dianggap surga dan neraka, hakekatnya kalau dapat mengendalikannya, itulah yang disebut surga, apabila tidak sanggup mengendalikannya itulah laksana neraka.”

Seperti juga halnya kutipan dari Bhagawad Gita sbb:

“Ibarat penyu menarik kaki ke dalam tubuhnya, ia menarik semua panca indrianya dari segenap obyek keinginannya, demikian jiwanya mencapai keseimbangan.”

Pengendalian diri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Untuk dapat mengendalikan diri maka pertama kita harus mengenal diri kita terlebih dahulu. Jika saya menyadari bahwa saya adalah orang yang suka bicara, maka saya harus belajar mengendalikan diri. Ada kalanya saya harus diam dan belajar menjadi pendengar dan mungkin juga sebaliknya.

Alkisah ada seorang bhiksuni yang tinggal di Sri Lanka. Ia adalah biarawati yang sangat bajik, tinggal di gua, sangat sederhana, dan tiap pagi pergi menerima derma makanan. Ia nyaris tak punya apa-apa. Suatu hari ia bangun pagi dan melihat seekor tikus telah menggigit dan melubangi jubahnya. Maka ia berpikir, aku akan meminta kain rombeng dan benang untuk menambal lubang ini. Ketika ia menerima derma makanan, ia meminta kepada seorang penyantunnya, bolehkah saya meminta secarik kain rombeng dan benang untuk menambal lubang di jubah saya?? tikus menggigitnya hingga berlubang. Ia menambal jubahnya, namun tikus terus menerus melubangi jubahnya. Maka biksuni berpikir percuma terus menerus menambal. Yang dia butuhkan adalah kucing untuk mengusir semua tikus itu. Jadi sang Bhiksuni meminta kucing pada pendermanya. Kini ia memiliki seekor anak kucing di guanya. Tentu saja anak kucing tidak bisa makan makanan manusia, jadi kucing itu makin lama makin kurus. Bhiksuni kemudian berpikir untuk meminta susu pada pendermanya. Anak kucing senang, namun ternyata susu yang diberikan kurang. Maka Bhiksuni berpikir untuk meminta sapi pada pendermanya. Agar bisa diperah susunya. Namun sapi itu pun harus makan, jadi setiap hari Bhiksuni meminta sedekah segulung rumput dan jerami untuk dipanggul dan dibawa pulang dan pergi. Kemudian Bhiksuni meminta ladang agar tidak kelelahan memanggul rumput dan jerami setiap harinya. Bhiksuni itu kemudian memiliki ladang, namun ia harus menyabit rumput, menabur benih rumput, memotongnya lagi, memanggulnya kembali untuk diberikan makan pada sapi, memerah susu sapi, memberi makan kucing dan seterusnya. Kemudian Bhiksuni berpikir bahwa dia butuh seorang bocah untuk mengurus semuanya, setelah itu dia berpikir untuk membangun sebuah gubuk terpisah untuk bocah tersebut, butuh papan, kayu, bahan bangunan, dan seterusnya, dan seterusnya. Semuanya bermula dari lubang di jubah.

Ini adalah kisah bagus yang dapat dijadikan cermin mengenai betapa banyaknya hal-hal yang benar-benar kita inginkan dan mungkin tanpa kita sadari diri kita sudah dikendalikan oleh indria-indria. Pagerwesi mengajak kita selalu untuk menyadari  dan untuk kembali terjaga, agar jangan sampai dikendalikan oleh indria-indria kita dan justru sebaliknya, kitalah yang harus mengendalikan indria-indria kita.

(Pernah dibawakan sebagai wacana pengantar sembahyang di Pura Buana Agung Bontang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Tag Cloud