Asta Bratha

Pemimpin sejati tak pernah mati. Ia melayani dalam kehidupan, untuk menjadi sebuah inspirasi setelah kematiannya.
“Semangat kepemimpinan” semacam ini mengacu pada semangat seorang ksatria – ka-pasitas, kemampuan dan yang paling penting, kemauan untuk melayani. Lelulur kita merumuskannya dalam Asta Brata “Delapan Pedoman Prilaku”, untuk di-kaji oleh semua pemimpin sekaligus pelayan.Mereka ibarat delapan kelopak bunga ter-atai, semuanya indah dan sama-sama penting.

Kelopak pertama, Matahari, menganjurkan kita untuk belajar mencintai, peduli dan berbagi tanpa pandang bulu. Matahari tak pilih kasih pada kelompok tertentu. Ia ialah sumber energi utama bagi semua bentuk kehidupan, kendati demikian ia tak mengharapkan apapun sebagai balasan. Bagi pemimpin yang melayani negara, ada nilai tambahan yang bisa dipelajari: ketika me-mungut pajak dan tagihan lainnya, tirulah cara matahari menyerap air dari lautan. Prosesnya
begitu halus. Lautan tak mengurangi; begitu juga masyarakat harus tidak boleh merasa terlalu dibebani oleh pajak.
Apa yang lebih penting ialah bahwa matahari mendaur ulang air itu dan mengembalikannya dalam bentuk hujan yang menguntungkan semua. Petugas urusan pajak negara harus memastikan bahwa uang yang dikumpulkan dari masyara-kat dipergunakan secara bijak untuk keuntungan publik, tak melulu menguntungkan orang yang berpunya.
Nilai yang dipelajari di sini ialah pertama tanpa diskriminasi dan keadilan untuk semua.

Kelopak kedua, Bulan, bersinar di tengah kegelapan. Walau dalam keadaan krisis, konflik, ketegangan dan penuh tekanan, seorang pemimpin harus tetap bersinar dan melayani masyarakat. Pelayanan terus-menerus ialah kunci utamanya di sini.

Bintang, kelopok yang ketiga, memandu mereka yang tersesat. Para pemimpin kita harus mengambil jarak dari opini yang tak mengikat dari lembaga atau individu tertentu yang merasa berhak menuduh kelompok masyarakat sesat dan menghukum mereka, ketimbang membimbing mereka. Seorang pemimpin ibarat bintang kutub. Bintang kutub dijadikan pegangan bagi penunjuk arah, dan menentukan garis lintang dan garis bujur. Kemampuan untuk diandalkan ialah kata kuncinya di sini. Untuk bisa diandalkan, seorang pemimpin harus pertama kali meyakini intelegensia dan intuisi mereka sendiri, ketimbang individu atau lembaga yang tak tahu dan pendapat mereka. Bahkan ketika datang untuk meminta nasehat dari orang bijak, silakan lakukan saja dengan segala cara, kendati demikian putuskan sendiri olehmu.

Kelopak keempat, Api, ialah ajakan untuk membakar ego, arogansi, kesombongan, keangku-han, kepentingan pribadi, prasangka dan segala sifat negatif lainnya. Kata kuncinya ialah ker-endahan hati dan kesederhanaan.

Kelopak kelima ialah Angin – lembut, semilir, halus, tak terlihat, kendati demikiaan begitu kuat dan berada di mana-mana. Tak ada yang bisa menghindar dari penembusannya. Seorang pemimpin harus bisa bergerak secara bebas dan tak tak terlalu diproteksi oleh orang-orang di sekitarnya. Merka harus sensitif pada kondisi yang sebenarnya dan kebutuhan yang ada di masyarakat, dan tak tergantung pada para “pemberi informasi”. Terjun dan menyapa masyarakat langsung ialah konsep utamanya di sini.

Bumi ialah kelopak keenam. Walaupun kita nodai dan eksploitasi, Ibu Bumi selalu memberi dan memaafkan. Inilah kata kuncinya. Sebagai pelayan publik, seorang pemimpin harus menerima segala macam kritikan. Mereka tak boleh berprasangka buruk terhadap orang yang mengkritik mereka. Mensomasi dan menuntut le-wat jalur hukum bukanlah kebiasaan yang baik.

Air, ialah kelopak ketujuh, mengingatkan kita akan alirannya yang konstan, berbagi kehidupan dengan satu dan semua. Ketika alirannya dihalangi oleh sebuah batu, ia merubah arahnya dan terus mengalir. Kata kuncinya: cair, tapi sekaligus mantap.
Terakhir tapi penting, kelopak kedelapan, Lautan, menyimbolisasikan keluasan dan kemampuan untuk menyerap air-air kotor, membersihkannya dan mempersiapkannya untuk perjalanan berikut-nya, untuk menguap dan kembali sebagai air hujan yang memberi kehidupan. Seorang pemimpin harus seperti lautan, luas pengetahuannya, pencinta dan pembaca buku, seperti bapa bangsa kita, khususnya Sukarno dan Hatta. Mereka ialah para pembaca ulung. Uniknya, arti kepanjangan BOOK (Broad Ocean of Knowledge) ialah Lautan Pengetahuan yang Luas. Kebijaksanaan, terlahir dari samudera pengetahuan semacam ini, kembangkan kemampuan men-daur-ulang yang jelek, tak berharga dan tak berguna, dan mentransformasikannya menjadi baik, berharga dan bermanfaat. Kata kuncinya ialah: kemampuan mendaur ulang, mentransformasi dan mereformasi.

(copas dari tulisan Anand Krishna, http://www.aumkar.org)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Tag Cloud